Beras mahal…!! beras mahal…!!
Kalimat seperti ini yang terdengar keras belakangan di awal tahun 2007 ini. Di saat semua harga barang sedang tinggi-tingginya, satu yang paling banyak mengena ke masyarakat luas yaitu beras mahal...!! betapa tidak, di Jakarta saja, beras bisa mencapai harga Rp. 7000,- per kg nya.
Kenapa hal ini bisa terjadi ?
Dari sudut pandang dunia pertanian, dapat kita analisa sedikit.. beras berasal dari padi yang ditanam di seluruh wilayah Indonesia. Beberapa hal mempengaruhi harga beras dari petani adalah sbb:
benih
pupuk
serangan hama global
bahan bakar
keberadaan tengkulak
peran serta koperasi
Untuk bisa melihat secara inplisit permasalahannya, akan lebih baik kita membahas poin diatas satu persatu.
I. Benih
Benih yang didapat petani pada saat ini sudah sedemikian mudahnya, karena sedemikian banyaknya produsen benih yang mempunyai jaringan di seluruh Indonesia. Hal ini membuat petani tidak begitu mempersoalkan supply benih di daerahnya masing-masing.
Akan tetapi yang menjadi permasalahan pelik mengenai benih pada saat ini adalah banyak beredarnya benih-benih palsu yang tidak terditeksi hingga benih ini sudah diaplikasi di lapangan. Hasil panen yang tidak sesuai dengan teori yang dtawarkan oleh produsen benih sering terjadi. Dari tanaman yang mudah terserang penyakit hingga hasil panen yang menurun adalah hasil dari benih palsu yang beredar di masyarakat.
II. Pupuk
Tidak berbeda jauh dengan benih, produsen pupuk yang mengembangkan sayap usahanya di Indonesia terbilang banyak. Dari perusahaan BUMN hingga swasta.
Akan tetapi kelangkaan pupuk di Indonesia masih sering terjadi. Kemana semua pupuk yang ada? Sejak tahun 1970-an, petani Indonesia disosialisasikan untuk menggunakan pupuk yang katanya untuk intesifikasi pertanian. Akan tetapi ada impact jangka panjang yang dilupakan oleh para ahli-ahli pertanian jaman itu. Penggunaan pupuk kimia mengakibatkan tanah dan tanaman menjadi ”manja” pupuk, selain itu tanah menjadi semakin miskin hara dan dosis pupuk yang harus digunakan tahun demi tahun semakin meningkat apabila kita ingin menambah hasil panen pertanian. Otomatis biaya yang dibutuhkan petani menjadi semakin mahal.
III. Serangan Hama Global
Hama menjadi faktor penting yang merusak keberhasilan hasil panen pertanian. Hal ini terjadi karena penyeragaman tanaman di satu luasan areal tertentu yang mengakibatkan bahan makanan hama semakin banyak dan populasi hama semakin tinggi. Populasi hama menjadi semakin tidak terkendali dikala populasi predator alami dari hama ini sangat kurang. Hal ini bisa diakibatkan oleh tingkat regenerasi dari predator yang rendah dan juga pestisida yang digunakan oleh para petani justru lebih banyak membunuh predator alami dari hama yang sebenarnya merusak tanaman.
Fuso adalah istilah yang biasa disebut dalam kegagalan panen yang diakibatkan oleh serangan hama. Apabila ini terjadi, petani tidak bisa berbuat banyak dan hanya berharap dan melakukan usaha agar musim panen berikutnya ini tidak terjadi.
IV. Bahan Bakar
Digunakan untuk tenaga penggerak traktor pengolah tanah dan lebih berperan besar dalam transportasi angkutan hasil panen. Bahan bakar ini yang menggerakkan alat transportasi pengangkut hasil panen hingga ke pengguna.
Anda sudah dapat melihat sendiri dampak kenaikan harga BBM pada barang-barang kebutuhan kita. Tidak usah terlalu dalam kita bahas dampak bahan bakar pada petani. Yang pasti... Besar sekali !!
V. Keberadaan Tengkulak
Mereka datang sebagai penyelamat petani dikala kesulitan keuangan melanda. Menawarkan bantuan keuangan disaat tanaman dalam masa pertumbuhan vegetatif dan disaat yang sama para petani sedang membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari karena pengeluaran yang sudah sedemikian besar untuk tanaman mereka.
Hal ini membuat tengkulak bisa berbuat sesuka hati dalam menentukan harga beras.
VI. Peran Serta Koperasi
Banyak hal positif yang bisa dilakukan petani di daerah. Sebagai simpan pinjam hingga membeli hasil pertanian. Saya tidak memantau banyak, apa yang terjadi dengan koperasi pedesaan saat ini. Apbila berjalan dengan semestinya, hasilnya akan sangat baik sekali bagi kestabilan harga beras di pasaran hingga saat ini.
Selain hal di atas, peran serta pemerintah pun sangat dibutuhkan dalam memantau pergerakan beras dari produksi benih hingga beras sampai ke tangan pengguna. Bulog yang notabene adalah salah satu tangan pemerintah dalam sebagian proses ini, tidak dapat berbuat banyak dalam mengendalikan harga beras saat ini. Disamping beras yang diperjualkan kualitasnya sangat rendah, target pasar yang difokuskan pada rakyat miskin yang membutuhkan pun tidak sampai karena banyaknya pedagang yang membeli dengan uang lebih.
Ilmuwan di bidang pertanian sudah banyak berbuat sesuatu pada dunia pertanian, sayangnya hal ini banyak yang tidak sampai ke masyarakat luas.
Pengalaman saya di IPB di tahun 90-an ketika masih banyak mahasiswa dari Malaysia yang belajar di sana, saat ini pertanian mereka jauh lebih baik dari kita. Thailand yang dulu kita eksport beras kepada mereka, saat ini sudah mampu membanjiri pasar retail kita dengan produk-produk pertanian mereka bahkan pertanian mereka banyak dijadikan contoh bagi negara lain. Lengkeng bangkok dan durian monthong adalah produk yang paling banyak menarik perhatian di negara kita. Vietnam yang dari dulu selalu kekurangan beras, saat ini beras mereka sudah mulai membanjiri Indonesia.
Sedih melihat keadaan seperti ini, seharusnya membangkitkan rasa nasionalisme kita untuk bisa bangkit dari keterpurukan.
Ini bukan saatnya kita saling menyalahkan untuk kepentingan ego sendiri. Kerahkan semua usaha dan kerja keras. Bekerja sama untuk kemajuan jauh lebih baik. Banyaknya cara yang digunakan, seharusnya bukanlah menjadi kompetisi melainkan harus menjadi pekerjaan yang mempunyai misi yang sama yakni kebangkitan pertanian Indonesia.
Jangan sampai ada pekik lagi di masyarakat.. Beras mahal !!
Jumat, 20 Februari 2009
Kajian kecil buah lokal dalam pemasaran di dunia retail
Sudah tujuh tahun saya bekerja dalam dunia retail sebagai mata pencaharian saya, dari lokal retail hingga PMA. Saya bekerja sebagai tenaga operasional untuk department buah dan sayur. Terakhir dan masih saya jalani hingga saat ini adalah sebagai sales development manager untuk sebuah hypermarket lokal di Jakarta.
Banyak hal yang saya pelajari dalam bidang pekerjaan retail ini, mulai dari manajemen sumberdaya manusia hingga manajemen produk itu sendiri. Dari proses pengorderan produk hingga membuang produk yang sudah tidak bisa terjual. Dari membuat produk yang tidak laku menjadi sangat laku. Dan masih banyak lagi....
Satu yang menjadi perhatian saya yaitu buah lokal.. kenapa?
Untuk sebuah toko sekelas hypermarket, dalam satu departemen buah dan sayur saja, kita memiliki 1000 hingga 2000 item yang terdaftar pada sistem komputer. Buah lokal yang kita miliki di toko hanya beberapa saja. Mulai dari jeruk medan hingga durian parung, belimbing dewi hingga jambu cincalo putih. Tetapi bila dibandingkan dengan buah import yang kita miliki, buah lokal kita masih lebih banyak jenisnya.
Yang mengenaskan adalah tidak ada satupun dari buah lokal yang kita miliki bisa mengalahkan penjualan buah import secara kuantiti. Contoh dari buah import ini adalah jeruk mandarin lokam, apel washington, durian monthong, anggur red globe, lengkeng bangkok dan beberapa lainnya.
Ada beberapa point yang saya catat mengenai hal ini:
tidak ada standart kualitas pada buah lokal
harga jual dari supplier yang terlalu fluktuatif
tidak ada kontinuitas dalam pengadaan barang
packaging yang tidak memenuhi standart
ketidakpercayaan konsumen terhadap kualitas buah lokal.
Dan penyebab dari kelima faktor diatas adalah:
tidak adanya kesadaran dari setiap pihak untuk membuat satu standart dalam penjualan produk buah lokal di dalam negeri
kurangnya kesadaraan dan keinginan konsumen untuk mendapatkan produk buah lokal dengan kualitas terbaik
terlalu kuatnya keinginan konsumen untuk mendapatkan produk dengan harga yang rendah tanpa memperhatikan kualitas
besarnya biaya produksi untuk sebuah produk pertanian, seperti pupuk dan biaya transportasi
kurang berperannya koperasi di daerah, dan lebih dominannya tengkulak
kurangnya sosialisasi akan kualitas buah lokal kepada konsumen.
Saya sangat gembira TRUBUS selalu mengadakan festival buah lokal untuk mengangkat harkat dan martabat buah lokal kita, akan tetapi sayang sekali hal ini tidak diikuti oleh sosialisasi lebih luas dan pengadaan barang dalam jumlah yang besar agar semakin banyak warga Indonesia yang dapat menikmatinya. Saya pikir banyak orang di negara kita ini sudah mulai melirik pertanian sebagai mata pencaharian, dan mau terjun untuk memperbanyak produk buah lokal asal informasi yang mereka butuhkan di dapat dengan mudah.
Pasar retail modern merupakan peluang yang sangat besar untuk produk buah lokal kita. Sebagai contoh.. Carrefour mempunyai 50-an outlet, Hypermart 45 oulet, Giant 30-an outlet dan belum termasuk retail modern sekelas supermarket seperti Matahari, Hero, Ramayana dan lainnya. Bayangkan apabila kita bisa menjual satu buah lokal dengan demand yang besar seperti buah import, berapa besar hasil yang kita bisa dapat. Sekedar bayangan saja penjualan buah lokal kita di pasar retail modern adalah 1 : 4 bila dibandingkan dengan buah import. Mencengangkan....?
Sedih sekali melihat buah-buah lokal kita di pasar retail kalah bersaing dengan buah import, bahkan terkadang buah lokal kita jauh lebih mahal dengan kualitas yang lebih rendah dibanding buah import.
Dahulu ketika saya masih kuliah, banyak sekali orang Malaysia yang belajar di IPB untuk menimba ilmu. Akan tetapi sekarang justru merekalah yang lebih pintar dari kita. Sangat menyedihkan melihat hal ini. Thailand pun dahulu tidak lebih baik pertaniannya dari pada Indonesia, akan tetapi sekarang Durian monthong dan lengkeng bangkok mereka membanjiri pasar retail Indonesia dengan angka penjualan yang fantastis. Dimana anda dan saya sebagai warga Indonesia dengan alamnya yang kaya dan subur....?
Untuk itu menurut saya perlu diadakan satu forum komunikasi antar sektor antara lain peneliti, perguruan tinggi, supplier, petani dan retailer dengan pemerintah sebagai mediatornya agar hal ini bisa tercapai. Saya ingat pada tahun 2000, IPB pernah mengadakan even ini (disini saya bertemu dengan Bpk Onny Untung) akan tetapi follow up dan kontinuitas dari seminar pada waktu itu tidak begitu terlihat.
Bukan hal yang mustahil bagi buah-buah lokal kita untuk menjadi tuan rumah di negara sendiri dan mungkin tuan rumah di negara orang lain, karena potensi tersebut sudah hampir terbuka. Tinggal bagaimana kita bisa konsisten dan membuka komunikasi yang intens dengan semua pihak yang terkait untuk menjalankannya. Kita mempunyai banyak sekali ahli dalam bidang pertanian, karena saya sudah pernah berhadapan dengan beberapa di antaranya.
Disini saya ingin mengajak anda semua yang mempunyai kompetensi di bidang masing-masing untuk bisa duduk bersama mendukung kemajuan buah lokal kita. Terima kasih.
Banyak hal yang saya pelajari dalam bidang pekerjaan retail ini, mulai dari manajemen sumberdaya manusia hingga manajemen produk itu sendiri. Dari proses pengorderan produk hingga membuang produk yang sudah tidak bisa terjual. Dari membuat produk yang tidak laku menjadi sangat laku. Dan masih banyak lagi....
Satu yang menjadi perhatian saya yaitu buah lokal.. kenapa?
Untuk sebuah toko sekelas hypermarket, dalam satu departemen buah dan sayur saja, kita memiliki 1000 hingga 2000 item yang terdaftar pada sistem komputer. Buah lokal yang kita miliki di toko hanya beberapa saja. Mulai dari jeruk medan hingga durian parung, belimbing dewi hingga jambu cincalo putih. Tetapi bila dibandingkan dengan buah import yang kita miliki, buah lokal kita masih lebih banyak jenisnya.
Yang mengenaskan adalah tidak ada satupun dari buah lokal yang kita miliki bisa mengalahkan penjualan buah import secara kuantiti. Contoh dari buah import ini adalah jeruk mandarin lokam, apel washington, durian monthong, anggur red globe, lengkeng bangkok dan beberapa lainnya.
Ada beberapa point yang saya catat mengenai hal ini:
tidak ada standart kualitas pada buah lokal
harga jual dari supplier yang terlalu fluktuatif
tidak ada kontinuitas dalam pengadaan barang
packaging yang tidak memenuhi standart
ketidakpercayaan konsumen terhadap kualitas buah lokal.
Dan penyebab dari kelima faktor diatas adalah:
tidak adanya kesadaran dari setiap pihak untuk membuat satu standart dalam penjualan produk buah lokal di dalam negeri
kurangnya kesadaraan dan keinginan konsumen untuk mendapatkan produk buah lokal dengan kualitas terbaik
terlalu kuatnya keinginan konsumen untuk mendapatkan produk dengan harga yang rendah tanpa memperhatikan kualitas
besarnya biaya produksi untuk sebuah produk pertanian, seperti pupuk dan biaya transportasi
kurang berperannya koperasi di daerah, dan lebih dominannya tengkulak
kurangnya sosialisasi akan kualitas buah lokal kepada konsumen.
Saya sangat gembira TRUBUS selalu mengadakan festival buah lokal untuk mengangkat harkat dan martabat buah lokal kita, akan tetapi sayang sekali hal ini tidak diikuti oleh sosialisasi lebih luas dan pengadaan barang dalam jumlah yang besar agar semakin banyak warga Indonesia yang dapat menikmatinya. Saya pikir banyak orang di negara kita ini sudah mulai melirik pertanian sebagai mata pencaharian, dan mau terjun untuk memperbanyak produk buah lokal asal informasi yang mereka butuhkan di dapat dengan mudah.
Pasar retail modern merupakan peluang yang sangat besar untuk produk buah lokal kita. Sebagai contoh.. Carrefour mempunyai 50-an outlet, Hypermart 45 oulet, Giant 30-an outlet dan belum termasuk retail modern sekelas supermarket seperti Matahari, Hero, Ramayana dan lainnya. Bayangkan apabila kita bisa menjual satu buah lokal dengan demand yang besar seperti buah import, berapa besar hasil yang kita bisa dapat. Sekedar bayangan saja penjualan buah lokal kita di pasar retail modern adalah 1 : 4 bila dibandingkan dengan buah import. Mencengangkan....?
Sedih sekali melihat buah-buah lokal kita di pasar retail kalah bersaing dengan buah import, bahkan terkadang buah lokal kita jauh lebih mahal dengan kualitas yang lebih rendah dibanding buah import.
Dahulu ketika saya masih kuliah, banyak sekali orang Malaysia yang belajar di IPB untuk menimba ilmu. Akan tetapi sekarang justru merekalah yang lebih pintar dari kita. Sangat menyedihkan melihat hal ini. Thailand pun dahulu tidak lebih baik pertaniannya dari pada Indonesia, akan tetapi sekarang Durian monthong dan lengkeng bangkok mereka membanjiri pasar retail Indonesia dengan angka penjualan yang fantastis. Dimana anda dan saya sebagai warga Indonesia dengan alamnya yang kaya dan subur....?
Untuk itu menurut saya perlu diadakan satu forum komunikasi antar sektor antara lain peneliti, perguruan tinggi, supplier, petani dan retailer dengan pemerintah sebagai mediatornya agar hal ini bisa tercapai. Saya ingat pada tahun 2000, IPB pernah mengadakan even ini (disini saya bertemu dengan Bpk Onny Untung) akan tetapi follow up dan kontinuitas dari seminar pada waktu itu tidak begitu terlihat.
Bukan hal yang mustahil bagi buah-buah lokal kita untuk menjadi tuan rumah di negara sendiri dan mungkin tuan rumah di negara orang lain, karena potensi tersebut sudah hampir terbuka. Tinggal bagaimana kita bisa konsisten dan membuka komunikasi yang intens dengan semua pihak yang terkait untuk menjalankannya. Kita mempunyai banyak sekali ahli dalam bidang pertanian, karena saya sudah pernah berhadapan dengan beberapa di antaranya.
Disini saya ingin mengajak anda semua yang mempunyai kompetensi di bidang masing-masing untuk bisa duduk bersama mendukung kemajuan buah lokal kita. Terima kasih.
Fenomena Tanaman Hias
Fenomena menarik terjadi pada usaha perdagangan tanaman hias. Satu tanaman dalam sebuah pot bisa laku terjual dengan harga puluhan juta hingga miliaran rupiah. Angka yang fantastis dan bagi sebagian orang sangat di luar logika.
Kalau kita lihat 10 hingga 20 tahun ke belakang, kondisi perdagangan tanaman sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada masa sekarang. Meskipun beberapa komoditi dagang yang berharga fantastis tersebut mungkin telah dijual pada masa lalu dengan harga yang biasa-biasa saja.
Jikalau hendak kita gali, sebenarnya hal ini lumrah terjadi dan kalau kita membuka mata lebar-lebar, banyak sekali peristiwa seperti ini terjadi pada komoditi lain dan hingga sekarang masih terjadi. Misalnya komoditi perangko tua, hewan peliharaan dengan kualitas ras, kartu bergambar atlet terkenal, dan lain-lain. Komoditi tersebut sudah terlebih dahulu mengalami masa kejayaan dan beberapa hingga kini untuk kalangan tertentu, komoditi tersebut masih memiliki nilai kejayaannya tersendiri.
Pertanyaan yang umum adalah mengapa fenomena seperti ini bisa terjadi? Satu hal yang sama terjadi pada komoditi tanaman hias dengan komoditi lain yang tersebut di atas yakni pada kelangkaan komoditi tersebut di pasar. Disinilah hukum supply dan demand berlaku. Ketika permintaan melonjak, tidak ada komoditi yang beredar di pasar maka naiklah harga tersebut di pasaran. Ketika masuk para kaum kolektor dan sebuah kumpulan pemain tanaman hias yang berani mematok harga tinggi karena melihat “nilai” yang ada pada komoditi tersebut dan dengan bumbu dari media massa, maka terjadilah fenomena tersebut.
Perbedaannya dengan komoditi lain sekarang adalah, tanaman hias bisa diperbanyak dan menghasilkan pemasukan yang lebih berlipat dibandingkan dengan komoditi lain. Tanaman anthurium jenis kobra misalnya, ketika berjaya satu indukannya dapat berharga 100 juta hingga 1 miliar rupiah, ketika berbunga bisa menghasilkan benih antara 200-1000 (bahkan lebih) dalam satu tanaman. Dan ketika anakan tersebut dijual, siempunya bisa mematok harga 1 juta hingga 3 juta rupiah untuk anakan yang berumur 1 hingga 3 bulan. Bayangkan berapa rupiah uang masuk yang didapat.
Beberapa poin yang menyebabkan tanaman bisa berharga sedemikian mahal adalah:
1. tingkat kesulitan mengembakbiakkan tanaman tersebut
2. munculnya hibrida baru
3. biaya penelitian yang mahal
4. biaya pemeliharaan yang mahal
5. kualitas yang baik (komoditi yang sama belum tentu berharga sama)
6. permainan supply dan demand di pasaran
7. promosi besar dan gencar terhadap komoditi tersebut
8. tidak ada standarisasi harga
Banyak orang dari berbagai kalangan tertarik terjun menekuni komoditi tanaman hias dan membuat komoditi ini menjadi bisnis yang menjanjikan dan menggiurkan. Orang dengan modal seadanya hingga bermodalkan miliaran rupiah bercampur baur untuk meramaikan pasar. Kisah sukses orang-rang yang terlibat dalam bisnis cukup banyak kita dengar dan baca di berbagai media. Kisah gagal pun tidak kalah banyak terjadi di antaranya, tetapi kisah ini tidak banyak muncul di media karena bukanlah sebuah “komoditi” yang menarik untuk dijual.
Kalau anda bisa melihat sekitar anda dengan seksama, delapan poin di atas bukanlah sesuatu yang mahal. Karena banyak sekali hal yang bisa dibuat untuk mematahkannya. Berbagai jenis buku dan hasil penelitian ilmiah sudah diterbitkan dalam mendukung tehnik budidaya bermacam tanaman. Pelatihan dan bahan baku sudah banyak disediakan oleh bermacam institusi yang siap mendukung budidaya. Alam Indonesia yang sedemikian subur ini pun menyediakan berbagai hal untuk digali. Yang perlu anda lakukan pertama adalah bertanya.
Sebuah fenomena, tidaklah menjadi sebuah fenomena jikalau tidak ada rahasia di dalamnya. Jikalau anda melihat tanaman hias bisa terjual dengan harga yang sedemikian tinggi, jangan iri. Sedikit rahasia untuk anda, setiap pemain tanaman hias, punya ‘lingkaran’ masing-masing. Harga tinggi yang dipatok, biasanya hanya terjadi dalam lingkaran tersebut, terkadang ada beberapa orang yang ingin mencoba bermain dan bergabung di dalam group mereka tanpa berpikir, maka dialah yang menjadi “kambing hitam”.
Saran saya, buat group anda sendiri terlebih dahulu. Canangkan tanaman apa yang yang hendak anda pegang. Kumpulkan tanaman tersebut dari semua sumber yang ada kemudian budidayakan terlebih dahulu, sehingga hanya group anda yang memilikinya dalam jumlah yang cukup di pasar. Dengan bumbu promosi dan iklan di berbagai media, lepaskan tanaman anda. Maka kemungkinan besar tanaman anda bisa terkenal dan berharga luar biasa.
Pertanyaan terakhir... bagaimana anda menilai fenomena mahalnya tanaman hias? Kualitasnya yang sedemikian indah atau permainan marketing sedemikian hebat.....? Anda menjawab dan saya menunggu di pasar bebas.
Kalau kita lihat 10 hingga 20 tahun ke belakang, kondisi perdagangan tanaman sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada masa sekarang. Meskipun beberapa komoditi dagang yang berharga fantastis tersebut mungkin telah dijual pada masa lalu dengan harga yang biasa-biasa saja.
Jikalau hendak kita gali, sebenarnya hal ini lumrah terjadi dan kalau kita membuka mata lebar-lebar, banyak sekali peristiwa seperti ini terjadi pada komoditi lain dan hingga sekarang masih terjadi. Misalnya komoditi perangko tua, hewan peliharaan dengan kualitas ras, kartu bergambar atlet terkenal, dan lain-lain. Komoditi tersebut sudah terlebih dahulu mengalami masa kejayaan dan beberapa hingga kini untuk kalangan tertentu, komoditi tersebut masih memiliki nilai kejayaannya tersendiri.
Pertanyaan yang umum adalah mengapa fenomena seperti ini bisa terjadi? Satu hal yang sama terjadi pada komoditi tanaman hias dengan komoditi lain yang tersebut di atas yakni pada kelangkaan komoditi tersebut di pasar. Disinilah hukum supply dan demand berlaku. Ketika permintaan melonjak, tidak ada komoditi yang beredar di pasar maka naiklah harga tersebut di pasaran. Ketika masuk para kaum kolektor dan sebuah kumpulan pemain tanaman hias yang berani mematok harga tinggi karena melihat “nilai” yang ada pada komoditi tersebut dan dengan bumbu dari media massa, maka terjadilah fenomena tersebut.
Perbedaannya dengan komoditi lain sekarang adalah, tanaman hias bisa diperbanyak dan menghasilkan pemasukan yang lebih berlipat dibandingkan dengan komoditi lain. Tanaman anthurium jenis kobra misalnya, ketika berjaya satu indukannya dapat berharga 100 juta hingga 1 miliar rupiah, ketika berbunga bisa menghasilkan benih antara 200-1000 (bahkan lebih) dalam satu tanaman. Dan ketika anakan tersebut dijual, siempunya bisa mematok harga 1 juta hingga 3 juta rupiah untuk anakan yang berumur 1 hingga 3 bulan. Bayangkan berapa rupiah uang masuk yang didapat.
Beberapa poin yang menyebabkan tanaman bisa berharga sedemikian mahal adalah:
1. tingkat kesulitan mengembakbiakkan tanaman tersebut
2. munculnya hibrida baru
3. biaya penelitian yang mahal
4. biaya pemeliharaan yang mahal
5. kualitas yang baik (komoditi yang sama belum tentu berharga sama)
6. permainan supply dan demand di pasaran
7. promosi besar dan gencar terhadap komoditi tersebut
8. tidak ada standarisasi harga
Banyak orang dari berbagai kalangan tertarik terjun menekuni komoditi tanaman hias dan membuat komoditi ini menjadi bisnis yang menjanjikan dan menggiurkan. Orang dengan modal seadanya hingga bermodalkan miliaran rupiah bercampur baur untuk meramaikan pasar. Kisah sukses orang-rang yang terlibat dalam bisnis cukup banyak kita dengar dan baca di berbagai media. Kisah gagal pun tidak kalah banyak terjadi di antaranya, tetapi kisah ini tidak banyak muncul di media karena bukanlah sebuah “komoditi” yang menarik untuk dijual.
Kalau anda bisa melihat sekitar anda dengan seksama, delapan poin di atas bukanlah sesuatu yang mahal. Karena banyak sekali hal yang bisa dibuat untuk mematahkannya. Berbagai jenis buku dan hasil penelitian ilmiah sudah diterbitkan dalam mendukung tehnik budidaya bermacam tanaman. Pelatihan dan bahan baku sudah banyak disediakan oleh bermacam institusi yang siap mendukung budidaya. Alam Indonesia yang sedemikian subur ini pun menyediakan berbagai hal untuk digali. Yang perlu anda lakukan pertama adalah bertanya.
Sebuah fenomena, tidaklah menjadi sebuah fenomena jikalau tidak ada rahasia di dalamnya. Jikalau anda melihat tanaman hias bisa terjual dengan harga yang sedemikian tinggi, jangan iri. Sedikit rahasia untuk anda, setiap pemain tanaman hias, punya ‘lingkaran’ masing-masing. Harga tinggi yang dipatok, biasanya hanya terjadi dalam lingkaran tersebut, terkadang ada beberapa orang yang ingin mencoba bermain dan bergabung di dalam group mereka tanpa berpikir, maka dialah yang menjadi “kambing hitam”.
Saran saya, buat group anda sendiri terlebih dahulu. Canangkan tanaman apa yang yang hendak anda pegang. Kumpulkan tanaman tersebut dari semua sumber yang ada kemudian budidayakan terlebih dahulu, sehingga hanya group anda yang memilikinya dalam jumlah yang cukup di pasar. Dengan bumbu promosi dan iklan di berbagai media, lepaskan tanaman anda. Maka kemungkinan besar tanaman anda bisa terkenal dan berharga luar biasa.
Pertanyaan terakhir... bagaimana anda menilai fenomena mahalnya tanaman hias? Kualitasnya yang sedemikian indah atau permainan marketing sedemikian hebat.....? Anda menjawab dan saya menunggu di pasar bebas.
Langganan:
Komentar (Atom)
