Selamat datang di blog paling tidak jelas sedunia.. nikmati selagi anda bisa, dan tinggalkan selagi tidak lagi menyenangkan... hehehehe.. di sebelah kiri adalah beberapa hasil jepretan yang murni dari kamera sendiri. Mudah-mudahan anda terhibur...

Jumat, 20 Februari 2009

Kajian kecil buah lokal dalam pemasaran di dunia retail

Sudah tujuh tahun saya bekerja dalam dunia retail sebagai mata pencaharian saya, dari lokal retail hingga PMA. Saya bekerja sebagai tenaga operasional untuk department buah dan sayur. Terakhir dan masih saya jalani hingga saat ini adalah sebagai sales development manager untuk sebuah hypermarket lokal di Jakarta.

Banyak hal yang saya pelajari dalam bidang pekerjaan retail ini, mulai dari manajemen sumberdaya manusia hingga manajemen produk itu sendiri. Dari proses pengorderan produk hingga membuang produk yang sudah tidak bisa terjual. Dari membuat produk yang tidak laku menjadi sangat laku. Dan masih banyak lagi....

Satu yang menjadi perhatian saya yaitu buah lokal.. kenapa?

Untuk sebuah toko sekelas hypermarket, dalam satu departemen buah dan sayur saja, kita memiliki 1000 hingga 2000 item yang terdaftar pada sistem komputer. Buah lokal yang kita miliki di toko hanya beberapa saja. Mulai dari jeruk medan hingga durian parung, belimbing dewi hingga jambu cincalo putih. Tetapi bila dibandingkan dengan buah import yang kita miliki, buah lokal kita masih lebih banyak jenisnya.

Yang mengenaskan adalah tidak ada satupun dari buah lokal yang kita miliki bisa mengalahkan penjualan buah import secara kuantiti. Contoh dari buah import ini adalah jeruk mandarin lokam, apel washington, durian monthong, anggur red globe, lengkeng bangkok dan beberapa lainnya.

Ada beberapa point yang saya catat mengenai hal ini:
tidak ada standart kualitas pada buah lokal
harga jual dari supplier yang terlalu fluktuatif
tidak ada kontinuitas dalam pengadaan barang
packaging yang tidak memenuhi standart
ketidakpercayaan konsumen terhadap kualitas buah lokal.

Dan penyebab dari kelima faktor diatas adalah:
tidak adanya kesadaran dari setiap pihak untuk membuat satu standart dalam penjualan produk buah lokal di dalam negeri
kurangnya kesadaraan dan keinginan konsumen untuk mendapatkan produk buah lokal dengan kualitas terbaik
terlalu kuatnya keinginan konsumen untuk mendapatkan produk dengan harga yang rendah tanpa memperhatikan kualitas
besarnya biaya produksi untuk sebuah produk pertanian, seperti pupuk dan biaya transportasi
kurang berperannya koperasi di daerah, dan lebih dominannya tengkulak
kurangnya sosialisasi akan kualitas buah lokal kepada konsumen.

Saya sangat gembira TRUBUS selalu mengadakan festival buah lokal untuk mengangkat harkat dan martabat buah lokal kita, akan tetapi sayang sekali hal ini tidak diikuti oleh sosialisasi lebih luas dan pengadaan barang dalam jumlah yang besar agar semakin banyak warga Indonesia yang dapat menikmatinya. Saya pikir banyak orang di negara kita ini sudah mulai melirik pertanian sebagai mata pencaharian, dan mau terjun untuk memperbanyak produk buah lokal asal informasi yang mereka butuhkan di dapat dengan mudah.

Pasar retail modern merupakan peluang yang sangat besar untuk produk buah lokal kita. Sebagai contoh.. Carrefour mempunyai 50-an outlet, Hypermart 45 oulet, Giant 30-an outlet dan belum termasuk retail modern sekelas supermarket seperti Matahari, Hero, Ramayana dan lainnya. Bayangkan apabila kita bisa menjual satu buah lokal dengan demand yang besar seperti buah import, berapa besar hasil yang kita bisa dapat. Sekedar bayangan saja penjualan buah lokal kita di pasar retail modern adalah 1 : 4 bila dibandingkan dengan buah import. Mencengangkan....?

Sedih sekali melihat buah-buah lokal kita di pasar retail kalah bersaing dengan buah import, bahkan terkadang buah lokal kita jauh lebih mahal dengan kualitas yang lebih rendah dibanding buah import.

Dahulu ketika saya masih kuliah, banyak sekali orang Malaysia yang belajar di IPB untuk menimba ilmu. Akan tetapi sekarang justru merekalah yang lebih pintar dari kita. Sangat menyedihkan melihat hal ini. Thailand pun dahulu tidak lebih baik pertaniannya dari pada Indonesia, akan tetapi sekarang Durian monthong dan lengkeng bangkok mereka membanjiri pasar retail Indonesia dengan angka penjualan yang fantastis. Dimana anda dan saya sebagai warga Indonesia dengan alamnya yang kaya dan subur....?

Untuk itu menurut saya perlu diadakan satu forum komunikasi antar sektor antara lain peneliti, perguruan tinggi, supplier, petani dan retailer dengan pemerintah sebagai mediatornya agar hal ini bisa tercapai. Saya ingat pada tahun 2000, IPB pernah mengadakan even ini (disini saya bertemu dengan Bpk Onny Untung) akan tetapi follow up dan kontinuitas dari seminar pada waktu itu tidak begitu terlihat.

Bukan hal yang mustahil bagi buah-buah lokal kita untuk menjadi tuan rumah di negara sendiri dan mungkin tuan rumah di negara orang lain, karena potensi tersebut sudah hampir terbuka. Tinggal bagaimana kita bisa konsisten dan membuka komunikasi yang intens dengan semua pihak yang terkait untuk menjalankannya. Kita mempunyai banyak sekali ahli dalam bidang pertanian, karena saya sudah pernah berhadapan dengan beberapa di antaranya.

Disini saya ingin mengajak anda semua yang mempunyai kompetensi di bidang masing-masing untuk bisa duduk bersama mendukung kemajuan buah lokal kita. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan untuk berkomentar.. Saya berharap input positif yang membangun yang anda ketikkan. :)